Kesehatan

Kaldu Tulang: Manfaat, Risiko, dan Fakta Ilmiah yang Perlu Kamu Tahu

×

Kaldu Tulang: Manfaat, Risiko, dan Fakta Ilmiah yang Perlu Kamu Tahu

Sebarkan artikel ini
Kaldu Tulang
Kaldu Tulang (cuitanrakyat.com)

Beberapa bulan terakhir, kaldu tulang menjadi pembahasan panas di berbagai platform media sosial. Mulai dari TikTok, Instagram, hingga forum-forum kesehatan, banyak pengguna yang mengklaim bahwa mengonsumsi minuman gurih ini setiap pagi membawa perubahan besar dalam hidup mereka.

Klaim yang sering muncul antara lain: kulit jadi glowing, sistem pencernaan lebih lancar, tubuh terasa segar, dan kebutuhan protein harian lebih mudah terpenuhi. Tapi, apakah semua ini benar adanya? Atau hanya efek placebo dari tren yang sedang viral?

Untuk menjawabnya, mari kita bedah fakta ilmiah dan resiko di balik popularitas manfaat kaldu tulang.

Apa Itu Kaldu Tulang dan Bagaimana Cara Membuatnya?

Kaldu tulang (bone broth) adalah cairan hasil merebus tulang dan jaringan ikat hewan, biasanya ayam, sapi, atau ikan dan dalam waktu yang lama, bisa mencapai 12 hingga 48 jam. Proses perebusan yang panjang ini bertujuan untuk mengekstrak nutrisi penting dari tulang dan jaringan ikat tersebut, seperti:

  • Kolagen

  • Asam amino

  • Mineral (kalsium, magnesium, fosfor)

  • Vitamin larut lemak (A, D, E, K)

  • Elektrolit seperti natrium dan kalium

Biasanya, kaldu juga dicampur dengan bahan tambahan seperti bawang putih, jahe, wortel, dan seledri untuk memperkaya rasa dan manfaat kesehatan.

Manfaat Kaldu Tulang

1. Menyehatkan Kulit

Salah satu daya tarik utama kaldu tulang adalah kandungan kolagen-nya. Kolagen adalah protein struktural yang menyusun kulit, tulang, otot, dan jaringan ikat. Fungsi utamanya adalah menjaga elastisitas kulit, memperlambat keriput, serta menjaga kesehatan sendi.

Ahli gizi Lisa Moskovitz menyatakan bahwa kolagen memang bisa membantu memperbaiki kualitas dan tekstur kulit jika dikonsumsi secara konsisten. Namun, penting untuk dicatat bahwa jumlah kolagen dalam kaldu tulang, terutama buatan rumahan tidak selalu signifikan.

Bahkan, sebuah studi dari International Journal of Sport Nutrition and Exercise Metabolism tahun 2019 menyebut bahwa kaldu tulang tidak bisa diandalkan sebagai sumber utama kolagen, apalagi bila dibandingkan dengan suplemen kolagen yang terstandarisasi.

2. Membantu Pencernaan

Kaldu tulang mengandung gelatin, yaitu bentuk olahan kolagen yang larut dalam air. Gelatin bisa membantu memperbaiki lapisan usus dan meredakan peradangan ringan, sehingga bermanfaat bagi penderita gangguan pencernaan seperti irritable bowel syndrome (IBS) atau radang usus.

Selain itu, beberapa asam amino seperti glutamin dan prolin yang terkandung di dalamnya berperan dalam regenerasi jaringan usus dan mendukung sistem kekebalan tubuh.

Namun, menurut ahli gizi Kathleen Garcia-Benson, manfaat ini hanya optimal bila kaldu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai satu-satunya andalan.

3. Menyediakan Protein

Kaldu tulang mengandung protein, tapi jumlahnya sangat bervariasi. Rata-rata hanya sekitar 6–10 gram protein per cangkir, tergantung jenis tulang, lama perebusan, dan bahan tambahan.

Sebagai perbandingan, satu potong dada ayam tanpa kulit mengandung sekitar 25–30 gram protein. Jadi, kaldu tulang bisa menjadi pelengkap protein harian, tetapi tidak cukup untuk menggantikan sumber protein utama seperti daging, telur, atau kacang-kacangan.

Kandungan Nutrisi Kaldu Tulang

Berikut ini adalah ringkasan nutrisi yang umumnya terkandung dalam satu porsi (±240 ml) kaldu tulang:

Komponen Perkiraan Kandungan
Kalori 30–50 kkal
Protein 6–10 g
Lemak 0,5–1 g
Karbohidrat <1 g
Kolagen 1–2 g (variasi tinggi)
Natrium 300–500 mg (bisa lebih tinggi)
Kalsium 20–30 mg
Magnesium 10–20 mg
Fosfor 50–60 mg
Vitamin A, K, dan B-kompleks Jejak/minor

Catatan: Kandungan bisa sangat bervariasi tergantung cara pembuatan.

Risiko dan Efek Samping

Meskipun alami dan terlihat sehat, kaldu tulang bukan tanpa risiko. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Kandungan Natrium yang Tinggi

Kaldu tulang, terutama produk jadi atau yang ditambah garam, bisa mengandung natrium sangat tinggi. Ini bisa menjadi masalah serius bagi penderita:

  • Hipertensi

  • Penyakit jantung

  • Gangguan ginjal

  • Diabetes

Satu cangkir kaldu bisa mengandung lebih dari 500 mg natrium, yaitu sekitar 25% dari batas asupan harian yang direkomendasikan WHO (2.000 mg).

2. Risiko Logam Berat (Lead)

Beberapa studi menyatakan bahwa tulang hewan dapat menyimpan logam berat seperti timbal (Pb) dari lingkungan atau pakan yang tercemar. Saat direbus lama, logam ini bisa larut ke dalam kaldu.

Meskipun risikonya rendah jika konsumsinya tidak sering, ibu hamil dan anak-anak sebaiknya berhati-hati. Pastikan sumber bahan berasal dari hewan yang diternakkan secara organik dan sehat.

3. Tidak Cocok untuk Vegan dan Vegetarian

Kaldu tulang jelas bukan pilihan untuk pelaku pola makan nabati. Meski begitu, ada alternatif kaldu nabati yang diperkaya protein dan nutrisi lainnya, seperti kaldu jamur atau sayuran fermentasi.

Kaldu Tulang dalam Pola Diet

Kaldu tulang dapat dikonsumsi dengan berbagai cara:

  • Sebagai minuman pagi hari (pengganti kopi atau teh)

  • Campuran sup, semur, atau bubur

  • Sebagai base dalam saus atau kuah mie

Tips agar lebih sehat:

  • Gunakan tulang dari hewan organik

  • Tambahkan sayuran segar dan rempah alami

  • Batasi garam tambahan

  • Jangan konsumsi lebih dari 1–2 cangkir per hari

Kesimpulan

Kaldu tulang memang bukan sekadar tren kosong. Ia punya sejumlah manfaat nyata, mulai dari dukungan untuk kulit, sendi, pencernaan, hingga kekebalan tubuh. Namun, manfaatnya bukanlah solusi instan atau pengganti nutrisi lain.

Beberapa poin penting yang perlu kamu ingat:

  • Kaldu tulang bisa menjadi pelengkap asupan nutrisi
  • Tapi tidak bisa menggantikan sumber protein atau kolagen utama
  • Hindari konsumsi berlebihan, terutama jika kamu punya masalah kesehatan terkait garam atau logam berat
  • Konsultasikan ke ahli gizi jika ingin memasukkan kaldu tulang dalam diet jangka panjang

FAQ Seputar Kaldu Tulang

Q: Apakah kaldu tulang bisa membantu menurunkan berat badan?
A: Kaldu tulang rendah kalori tapi mengenyangkan. Cocok untuk diet, namun bukan pembakar lemak langsung.

Q: Apakah bisa dikonsumsi setiap hari?
A: Boleh, asal tidak berlebihan. 1–2 cangkir per hari cukup aman bagi kebanyakan orang sehat.

Q: Mana yang lebih baik, kaldu tulang buatan sendiri atau yang kemasan?
A: Buatan sendiri lebih bisa dikontrol kandungannya. Produk kemasan sering kali mengandung pengawet atau garam tinggi.

Q: Apakah benar bisa memperbaiki kondisi kulit berjerawat?
A: Kolagen dan asam amino bisa membantu regenerasi kulit, tapi bukan obat utama untuk jerawat.

Penulis: Hadi Baskoro

Editor: L. Hadi